Bersuci dengan melakukan wudhu merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan air pada anggota-anggota tubuh, seperti wajah, kedua tangan, kepala, telinga, dan kedua kaki. Penggunan air untuk berwudhu seharusnya dilakukan secara cermat dan hemat. Hal ini mengacu pada hadits dari Anas bin Malik R.A.: “Rasulullah S.A.W. berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325). Takaran satu mud adalah setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa. Beberapa referensi mengatakan bahwa satu mudd setara dengan 625 – 1030 mL.

Terlepas dari perbedaan angka volume tersebut, pada kenyataannya banyak dari kita yang berwudhu dengan menggunakan air secara berlebihan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatur penggunaan air wudhu agar tidak berlebihan adalah dengan memasang alat pembatas aliran pada keran-keran air untuk berwudhu.

 

Alat pembatas aliran air keran dapat dibuat dengan membuat bulatan ½ inci dari sendal karet.  Bulatan karet ini kemudian dilubangi dan dimasukan sedotan air mineral gelas sebagai pembatas aliran air (orifice).  Orifice ini dapat dipasang pada berbagai keran air ukuran ½ inci yang beredar di pasaran.  Pengujian menunjukan penghematan penggunaan air dapat mencapai hingga 50%.
Masjid dan Pondok Pesantren Al Amanah dan Masjid dan Pondok Pesantren Azzikra telah memasang alat ini di kedua lokasinya di Sentuk dan Gunung Sindur dengan jumlah keran wudhu lebih dari 300 keran.

 

Berikut ini video cara pembuatan Keran Hemat Air Wudhu

 

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

Share: