Manusia Dan Lingkungan Hidup


[Muqadimah 1]

         Kaum Muslimin Jamaah Yarhamukumullah

Judul khutbah kita pada hari ini "'Manusia dan Lingkungan Hidup". Manusia diciptakan Tuhan dengan segala potensinya, kehadiran manusia di dunia ini hanyalah semata-mata mengabdi, beribadah, kepada Allah Swt. Dalam Q.S Adz Dzariyat, ayat 56, Allah berfirman :

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (Q.S Az Dzariyat [51] : 56)

Seiring dengan itu, manusiapun diberi kewajiban oleh Allah sebagai pemimpin di muka bumi untuk memakmurkan dirinya dan seluruh mahluk di alam jagad raya ini.

Islam menegaskan bahwa manusia ditugaskan Tuhan menjadi pengelola bumi, mempunyai makna unsur-unsur yang berkaitan sebuah rangkaian sistem kehidupan di antara unsur-unsur tersebut. Pertama, manusia sebagai makhluk yang diberi predikat khalifah. Kedua, alam raya sebagai tempat melangsungkan kehidupan. Ketiga, hubungan manusia dengan lingkungan.

Hubungan manusia dengan alam atau dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan penakluk dan yang ditaklukkan, melainkan hubungan ketundukan kepada Tuhannya, karena kemampuan yang dimiliki oleh manusia dalam mengelola alam, bukanlah akibat dari kekuatan yang dimiliknya, melainkan anugerah dari Allah SWT. 

Sebagaimana vang tergambar dalam QS. Ibrahim, ayat 32, Allah berfirman :

اَللّٰهُ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَاَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّـكُمۡ‌ ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الۡـفُلۡكَ لِتَجۡرِىَ فِى الۡبَحۡرِ بِاَمۡرِهٖ‌ۚ وَسَخَّرَ لَـكُمُ الۡاَنۡهٰرَ‌ۚ

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera itu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai" (Q.S Ibrahim [14]: 32)

Senada dengan itu QS Al-Zukhruf ayat 13 juga mengatakan :

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقۡرِنِيۡنَۙ‏

"…Mahasuci Allah yang telah menundukan semua ini kepada kami, padahal sebelumnya kami tidak menguasai" (Q.S Al-Zukhruf [43]: 13) 

Pada sisi lain kekhalifahan mengandung makna "bimbingan" agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptanya dalam pandangan agama, seseorang tidak dibenarkan memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan dan memetik bunga sebelum berkembang, karena hal itu tidak memberi kesempatan pada makhluk tersebut mencapai tujuan penciptaannya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ad Dukhon 38 :

وَمَا خَلَقۡنَا السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لٰعِبِيۡنَ

"Dan kami Tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan main­" (Q.S Ad Dukhan [44] : 38)

Senada dengan ayat di atas Q.S Al Ahqof 3 juga mengatakan :

مَا خَلَقۡنَا السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَاۤ اِلَّا بِالۡحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّى‌ؕ

 "Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang di tentukan… " (Q.S Al Ahqaf [46] : 3)

Ayat tersebut memberikan penegasan kepada manusia selaku khalifah bumi, agar tidak hanya mementingkan kepentingannya atau kelompoknya belaka, melainkan harus bersikap bijak demi kemaslahatan semua makhluk. Ιa tidak boleh menjadikan alam sebagai tempat berbuat sewenang-wenang. Dengan demikian keberadaan manusia di muka bumi tidak hanya mencari "kemenangan" melainkan keselarasan manusia dengan lingkungannya dan tunduk kepada tuhannya, sehingga mereka dapat bersahabat dan senantiasa bersifat ramah.

Kaum Muslimin Jama’ah Yarhamukumullah

Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang berakal (hayawanun nathiq) seyogianya mampu memberikan nilai lebih di haribaan Tuhannya. Dibandingkan dengan mahluk lain yang tidak dianugerahi akal, sebaliknya Tuhan tidak mengharapkan manusia menjadikan bumi sebagai ladang menumpuk dosa dan kemadharatan bagi yang lainnya. Keberadaannya pun tidak di harapkan mengukir sejarah penebar kerusakan melainkan diharapkan menjadi "rahmatan lil alamin".

Pada posisi tersebut, sangatlah mulia keberadaan manusia, sehingga pantaslah makhluk yang satu ini dijadikan makhluk yang paling sempurna penciptanya -(Q.S At-Tin : 4). Namun, manusia pun bisa turun derajatnya seperti binatang, bahkan lebih rendah dari seekor binatang, yaitu bila manusia menjauhi harapan­ harapan Tuhannya (Q.S Al A'raf ; 179).

Dengan demikian sikap yang harus dikedepankan sebagai bagian dan karakter masyarakat islami sebagai rahmatan lil alamin di antaranya diwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, tidak membiarkan lingkungan (lahan) kosong. Tanpa ada pengelolaan adalah bagian dari sikap kontra produktif.

Kedua, berpahaman bahwa alam adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang harus diberdayakan dengan baik, sebagaimana disyaratkan dalam Q.S Ar- Rahman ayat 10 :

Pesan moral dari ayat tersebut adalah bahwa sumber daya alam dan lingkungannya diciptakan oleh Allah untuk diberdayakan oleh manusia. Kata kunci dari ayat tersebut adalah lafadz ‘lil anam' (untuk manusia) dalam lafadz tersebut bergandeng dengan "lam". Makna "lam"' pada lafadz tersebut adalah li alnaf (hak  memanfaatkan atau guna-pakai bukan dengan makna li al milki ( hak memiliki ).

Kaum Muslimin Jamaah Yarhamukumullah

Dengan demikian yang dianugerahkan kepada manusia bukan untuk dimiliki melainkan hanya hak guna pakai. Sehingga manusia tidak berhak bertindak seperti penguasa alam. Dengan mengeksploitasinya secara besar-besaran dan tidak memperhatikan keseimbangan manusia yang hidup pada lingkungannya tidak layak baginya berbuat kerusakan di muka bumi, sebab berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri seperti yang diisaratkan dalam Q.S Al A’raf : 56 :

وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا‌ ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡن

Timbul pertanyaan, bagaimana komitmen manusia sekarang dalam menjaga dan melestarikan alam lingkungan? apabila kita perhatikan dampak perkembangan sains dan teknologi telah berbicara lain lingkungn hidup. Lahan-lahan pertanian telah berubah menjadi mega proyek, gunung-gunung yang rimbun disulap menjadi vila-vila indah, tampak tempat genangan air telah di ubah menjadi real estate dan banyak kawasan perumahan penduduk berubah menjadi kawasan industri benar.

Beranjak dari itu, sudah saatnya manusia sadar sebelum terlambat dari segala kecongkokannya melaksanakan pembangunan, tanpa memperhatikan aspek keseimbangan dan kelestarian lingkungan, padahal al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, jauh 14 abad ke belakang, menegaskan kepada manusia senantiasa menjaga kelestarian alam dalam kerangka mencapai kehidupan yang sejahtera penuh. Bila manusia memaksakan diri mengadakan eksploitasi secara zalim, baik di darat ataupun di laut, tunggulah akibatnya berupa bencana kerusakan yang akan memberikan madharat kepadanya. Sebuah teguran, peringatan atau ancaman akan datangnya azab terhadap apa yańg telah diperbuatnya (Q.S Al Rum ayat 41)

Ayat tersebut memberi informasi, bahwa disebabkan tangan jahil manusialah alam yang begitu indah dan ramah menjadi rusak, oleh karena itu, seyogianya hal ini menjadi peringatan bagi manusia.  Terlebih telah banyak terjadi fakta dengan munculnya bencana alam, khususnya di Indonesia. Untuk itu perlu segera dihentikan segala kecongkakan dalam  mengeksplotasikan alam tanpa batas, apa pun alasannya.

Alam seolah berkata : ’’Aku bisa bersahabat seandainya manusia bisa mengerti dan tidak merusak aku, dan aku siap memberikan kemanfaatan dan kepada manusia. Jika manusia masih berpegang teguh pada harapan-harapan yang memposisikan diri sebagai ’’khalifah bumi’’.

Namun, harapan dan dambaan itu sekarang pudar akibat ulah tangan manusia yang di bungkus dengan dalih pengembangan sains dan tekhnologi, peningkatan devisa negara, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sering sekali dalih dalih itu mengikis keharmonisan antara manusia dengan alam lingkungan.

Penyulapan hutan lindung seakan akan menjadi hutan produktif, eksploitasi hutan suaka menjadi hutan kamuflase, penggundulan hutan, malapetaka banjir, penipisan lapisan ozon di atmosfir, hingga ancaman terjadinya hujan api di berbagai belahan bumi, adalah beberapa masalah besar yang kini mengancam bumi. Sehingga benarlah dugaan akan  adanya kerusakan alam raya, yang sekarang sudah menjadi salah satu isu global dunia, termasuk dua isu besar lainnya, yaitu krisis ekonomi dan politik. Munculnya fenomena kerusakan alam menunjukkan ketidak harmonisan hubungan manusia dan alam raya, padahal alam adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dan menjadi penyangga hidup dan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup di alam ini.

Oleh karena itu, sebagai umat yang memiliki ajaran yang komprehensif dan integral, seyogianya segala bidang kehidupan menjadi lapangan dalam mengamalkan ajarannya yang "rahmatan lil alamin". Termasuk di dalamnya senantiasa bersifat ramah terhadap lingkungan. Terlebih-lebih karena manusia yang pada hakikatnya adalah mahluk lingkungan (homo ecologis). Artinya, dalam melaksanakan fungsi dan posisinya sebagai salah satu sub dari ekosistem, manusia adalah makhluk yang memiliki kecendrungan untuk selalu mencoba mengerti akan lingkungannya ( Mujiyono, 2001: 132 ).

Kaum Muslimin Jamaah Yarhamukumullah

Dengan demikian, keharusan bagi manusia setelah berbagai bencana banyak terjadi akhir-akhir ini seperti banjir, tanah longsor, pencemaran dan lain sebagainya. Hendaknya mampu dijadikan sinyal oleh para pihak (tanpa kecuali) bersama aparat pemerintah melalui lembaga terkait, agar memperhatikan secara terkait berbagai aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan, seperti memilih lokasi pembangunan industri yang tidak menganggu kelestarian alam, proses pengolahan limbah, rehabilitas sumber daya alam, reboisasi, penambangan, kehutanan, kelautan, tata perkotaan dan lain sebagainya yang mendukung usaha perbaikan lingkungan.

Seiring dengan itu dan menjadi hal yang penting adalah manusia dituntut sebagai sebuah tugas, sekaligus sebagai sebuah kebutuhan, untuk selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan dalam wujud syukur pada Sang Pemilik alam. Lebih khusus dari itu diwujudkan dengan sikap siap dan mampu mengolah serta memberdayakan segala anugerah Allah sesuai dengan keinginan-Nya. Bila manusia mampu memposisikan diri pada posisi seperti itu, maka keberkahanlah yang akan didapat, seperti yang tersurat dalam Q.S Al A'raf : 96 :

وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ

Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tapi bila mereka mendustakan (ayat-ayat kami) maka siksalah yang akan di dapatkan disebabkan perbuatannya" (Q.S Al A'raf [7] : 96)

Kaum Muslimin Jama’ah Yarhamukumullah

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga menjadikan renungan bagi kita, sehingga akan bermanfaat bagi kita semua. Amin Υa Rabbal Alamin

 

 

[Muqadimah 2]

Share:
admin@ecomasjid.id