Perbaikan Lingkungan Tanggung Jawab Fardiyah Dan Jamaah

 

[Muqadimah 1]

Akhir akhir ini makin banyak saja terjadi bencana alam di berbagai belahan dunia ini, termasuk di wilayah tanah air kita Indonesia. Bencana alam tersebut bukan saja menimbulkan kerugian harta benda tetapi juga tak jarang  merenggut nyawa manusia. Ketika suatu Bencana  banjir bandang terjadi secara seketika, pemukiman ludes diterjang banjir bandang tersebut dan desa lenyap ditelan banjir, atau tertimbun lumpur dan akar pepohonan, serta limbah pembalakan liar.  Kejadian itu menimbulkan akibat yang sangat luas seketika saja puluhan bahkan ratusan keluarga tidak lagi memiliki rumah tempat tinggal, kehilangan lahan usaha pertaniannya, hewan ternak, dan kadang kala juga kehilangan sanak keluarga yang dicintai. 

Tidak sedikit pula daerah yang diterjang tanah longsor, termasuk pula jalan raya yang tertimbun lumpur, menyebabkan putusnya jalur lalu lintas, yang tentunya berdampak pada rusaknya sarana dan prasarana transportasi. Berbagai keperluan bahan pokok yang diangkut  turut terhambat tidak sampai ke tempat tujuannya. Kondisi ini berdampak pada kelangkaan bahan pokok yang pada gilirannya memicukan kenaikan harga-harga  barang keperluan hidup.

Banyak lagi hal-hal lain yang timbul karena bencana. Semua itu jelas sangat menyedihkan dan berdampak luas bagi kehidupan sosial ekonomi. Bencana selalu menimbulkan kemiskinan dan kemelaratan baru. Kita tentunya sangat prihatin dan berdoa agar bencana tidak terjadi lagi, dan mereka yang tertimpa bencana itu dapat tabah dan sabar sampai kembali pulih kondisi sosial ekonominya. Berkenaan dengan itu doa untuk keselamatan harus terus dimunajatkan sebagai bentuk  meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab untuk memelihara, melestarikan  dan memperbaiki lingkungan hidup.

Sudah saatnya kita menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab dengan sungguh sungguh. Upaya tersebut bukan saja bermanfaat bagi keselamatan manusia  tetapi juga sekaligus bahagian dari dedikasi pengabdian ibadah dan takwa kita kepada Sang Pencipta alam semesta, Allah Jalla Jalaluh. Di bawah curahan rahman dan rahim Nya, Allah SWT  telah memberikan rambu-rambu terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang diamanahkannya kepada manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup anak manusia.

Dengan tegas Allah SWT menyatakan dalam firmannya : Al-Qur an Surat

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi setelah perbaikannya dan kamu memperoleh kebaikannya. Dan berdoa lah kepada-Nya dalam keadaan takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat  dengan orang orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al-A’raf [7]: 56)

 

Pada ayat di atas, ada dua petunjuk penting. Pertama tentang  kekeliruan manusia dalam memanfaatkan alam semesta. Kebanyakan manusia cenderung eksploitatif, yaitu mengeruk tanpa batas, bahkan melampaui batas. 

Pemanfaatan sumber daya alam  yang eksploitatif itu, memang dari satu segi kelihatannya mendatangkan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat. Tetapi tanpa disadari karena keserakahan dan ketamakan pada keuntungan dan kebaikan alam semesta ciptaan Allah SWT  itu, telah timbul kerusakan pada daya dukung lingkungan sekitarnya. Penebangan hutan dan pembalakan liar menjadikan lahan hutan menjadi gundul. Ketika hujan turun, lahan yang sudah gundul itu, tidak dapat melakukann  penyerapan air dengan baik lagi. Inilah yang menyebabkan banjir bandang ataupun tanah longsor yang menjadi bencana bagi banyak orang.

Kedua, Firman Allah pada surat Al-A’raf  ayat 56 di atas, jelas menyatakan agar manusia senantiasa berdoa dengan perasaan takut dan harap  kepada Allah. Kemudian ayat tersebut ditutup dengan perkataan sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang orang yang berbuat kebaikan. Hal ini semakin memperjelas bahwa memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemampuan untuk dapat melakukan kebaikan.

Pencegahan terjadinya bencana itu adalah dalam bentuk tindakan pelestarian alam melalui reboisasi, penebangan yang teratur dan terencana serta tidak bersifat eksploitatif, membangun hutan industri dan berbagai upaya kebaikan lainnya. Dengan demikian kita umat Islam seluruhnya haruslah mengamalkan kedua pesan moral al-Qur an ini baik secara induvidu maupun kelompok atau berjamaah. Umat Islam harus menjadi yang paling utama untuk merubah pola pemanfaatan sumber daya alam yang eksploitatif  menjadi  pemanfaatan  terencana dan  rekonstruktif. Artinya, penebangan pohon harus secara teratur dan harus seimbang dengan penananam kembali areal hutan. Perlakuan itu akan menimbulkan rahmat bagi seluruh alam, manusia, termasuk hewan-hewan. 

Hal tersebut tergambar pada firman Allah SWT :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Dan tiadalah binatang yang hidup dibumi dan burung burung yang terbang dengan  kedua sayapnya, melainkan ummat-ummat  seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun  di dalam  Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka semua  dihimpunkan.  (QS. Al-Anam [6]: 38)

 

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia bersama dengan hewan dan lingkungannya, berada dalam satu ekosistem yang sama. Hal ini juga bermakna akan adanya kesamaan hak asasi untuk menikmati sarana fasilitas kehidupan yang telah dianugerahkan Allah kepada semua makhluk termasuk flora dan faunanya. Upaya merubah pola pemanfaatan alam menjadi konstruktif dan produktif, dan upaya peningkatan perbaikannya mutlak dilaksanakan, sebagai suatu tanggung jawab bagi setiap individu maupun berjamaah.

[Muqadimah 2]

 

 
Share:
admin@ecomasjid.id