Mensyukuri Nikmat Lingkungan Hidup[1]

 

[Muqadimah 1]

 

Kaum muslimin Yarhamukumullah.

Marilah senantiasa kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sehingga jika pada suatu saat kita dipanggil oleh Allah untuk menghadap kepada-Nya kita benar-benar wafat sebagai orang-orang Islam yang sejati.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْمُسْلِمُونَ

 

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kalian mati melainkan sebagai orang-orang yang beragama Islam" .(QS. Ali Imron [3] 102).

 

Taqwa menurut Syaikh ‘Afif  ‘Abdulfattah Thabbarah ialah :

أَوْ اِضْرَارٌ لِغَيْرِهِ  أَنْ يَتَّقِيَ الْاِنْسَانُ مَا يَغْضَبُ رَبُّهُ وَمَا فِيْهِ ضَرَرٌ لِنَفْسِهِ

Manusia menjaga dirinya dari apa yang dimurkai oleh Tuhannya dan apa yang berbahaya bagi   dirinya atau yang membahayakan orang lain  [2]

 

Menjaga diri dari niat, ucapan, atau perbuatan yang tidak disukai atau dimurkai Allah, yang akibatnya merugikan atau membahayakan diri sendiri atau orang lain, itulah taqwa.

 

Kaum muslimin Yarhamukumullah.

Pada kesempatan khuthbah ini, khathib mengajak diri khathib dan kaum muslimin untuk bertaqwa kepada Allah mengenai lingkungan hidup, yakni menjaga diri kita dari perbuatan yang merusak lingkungan kehidupan kita.

 Lingkungan hidup diciptakan oleh Allah berupa seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Unsur-unsur mana terdiri atas yang biotic, yaitu manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan unsur abiotik yaitu tanah, air dan udara. Semua unsur itu saling berkaitan dalam kelestariannya, sehingga merupakan suatu sistem yang terpadu yang kita namakan lingkungan hidup.

Sudah sedemikian rupa Allah membuat lingkungan hidup untuk kita. Sedemikian sempurnanya sehingga memungkinkan manusia hidup di dunia ini dengan aman dan nyaman, sehingga sampai kepada ajalnya masing-masing. Maka tidaklah mengherankan bagi kita jika kemudian Allah melarang kita merusak lingkungan hidup yang telah ditata oleh Allah sedemikian rupa itu :

 وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًاوَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhynya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al-A’raf [7]: 56).

 

Kaum muslimin Yarhamukumullah.

Menjaga lingkungan hidup bukan berarti membiarkan apa yang ada di sekitar kita hidup, tumbuh dan berkembang secara alamiyah tanpa dimanfaatkan oleh manusia. Bukan, bukan demikian…!  Membiarkan alam ciptaan Allah tanpa dimanfaatkan namanya tabdzir, yaitu penyia-nyiaan, padahal semua apa yang ada di bumi ini diciptakan untuk kepentingan manusia juga. Perhatikan firman Allah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَىالسَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

  Dialah Tuhan yang telah menciptakan apa yang ada di bumi semuanya untuk kamu – (QS. Al-Baqarah [2]: 29).

 

Menjaga lingkungan hidup adalah mensyukuri nikmat lingkungan hidup dengan cara memanfaatkan sumber dayanya, untuk kepentingan hidup secara tidak berlebih-lebihan, dan seiring dengan itu berupaya agar sumber daya itu terjaga kelestarian alamiahnya. Dengan demikian, manfaat sumber daya itu tetap ada dan berkembang kemanfaatannya untuk generasi sesudah kita. Pasalnya, sumber daya itu mempunyai regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama pemanfaatannya di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi maka sumber daya terbaharui dapat digunakan secara lestari. Tetapi apabila batas itu dilampaui, sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan dan mengancam kehidupan manusia,. Hal itu sebenarnya adalah adzab Allah akibat manusia kufur nikmat dan tamak.

Maka benarlah firman Allah :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّعَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur , niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu kufur nikmat maka pasti adzab-Ku sangat berat “  (QS. Ibrahim [14]: 7).

 

Kerusakan lingkungan akibat ketamakkan manusia mengeksploitasi sumber daya berlebih-lebihan menimbulkan berbagai bencana yang amat luas sebagaimana digambarkan Allah dalam firmanNya :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِلِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS. Ar-Ruum [30] : 41).

 

Kaum muslimin Yarhamukumullah.

Sebagai contoh, bahayanya perusakan sumber daya yang ada pada lingkungan hidup kita, adalah perusakan terhadap tanah atau lahan. Manusia berasal dari tanah dan hidup dari dan di atas tanah. Hubungan antara manusia dan tanah sangat erat. Kelangsungan hidup manusia di antaranya tergantung dari tanah dan sebaliknya tanahpun memerlukan perlindungan manusia untuk eksistesinya sebagai tanah yang memiliki fungsi. Di antara fungsinya adalah seperti yang difirmankan Allah :

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

“Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik ? “. (QS Asy-Syu’ara  [26]:7).

 

  Ironisnya manusia merusak tanah atau lahan yang sangat vital buat dirinya itu, antara lain dengan penebangan hutan tanpa diikuti peremajaan kembali, menyebabkan rusaknya tanah perbukitan, sehingga terjadilah bencana tanah longsor. Dan akibat gundulnya hutan, mau tidak mau timbullah bencana banjir. Siapakah yang paling banyak mengalami kesengsaraan jika hal itu terjadi? Tidak lain kitalah sebagai manusia yang pasti akan mengalami kesengsaraan paling besar.

 

Kaum muslimin Yarhamukumullah.

Itulah sekadar contoh perusakan lingkungan hidup. Dengan demikian bumi dan segala manfaat dari sumber dayanya tidak akan diberikan oleh Allah kepada sembarang orang, apalagi kepada para perusak lingkungan. Allah hanya akan menganugerahkan manfaat sumber daya bumi ini hanya kepada hamba-hamba Allah yang berbuat baik di bumi ini, termasuk orang-orang yang mensyukuri ni’mat lingkungan hidupnya.

 

[Muqadimah 2]

 

 

 



[1] KH Ahmad Saifuddin Hassan

[2] ‘Afif ‘Abdulfattah Thabbarah, Ruhud-Dinil-Islamy, Darul-‘Ilmi Lil-Malayin, Bairut, 1988, H 211

Share:
admin@ecomasjid.id